Seorang Wartawan Alami Tindak Kekerasan Oleh Oknum Pengusaha Illegal Logging Di Sandai

Seorang Wartawan Alami Tindak Kekerasan Oleh Oknum Pengusaha Illegal Logging Di Sandai

Lokasi Illegal Logging di Kecamatan Sandai

SUARAHEBAT.CO.ID | KETAPANG -- Kembali terjadi tindakan kekerasan terhadap seorang oknum wartawan Media Online di Kecamatan Sandai Kabupaten Ketapang, dalam kejadian tersebut salah satu pelakunya adalah oknum pelaku usaha illegal loging berinisial AM, yang terjadi pada hari Selasa 14 Desember 2021 di Dusun Nango Desa Petai Patah Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.

AM merasa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh korban (Supli) yang sedang menjalankan tugasnya sebagai jurnalis saat mendokumentasikan aktivitas penumpukan Kayu di TPK milik AM , ternyata apa yang di lakukan oleh korban inilah yang memicu AM melakukan tindakan kekerasan tersebut terhadap korban (Supli).

Adapun kronologis kejadian tersebut yang di ceritakan oleh korban (Supli) Kepada Garda Metro via telepon WA pada 20 Desember 2021 sebagai berikut,

Supli menjelaskan bahwa kejadian itu terjadi pada saat dirinya berada di dalam mobil miliknya, pelaku AM langsung masuk kedalam mobil saya, lewat pintu sebelah kiri serta langsung melakukan pemukulan berulangkali, saya sempat berhasil menghindari pukulan yang pertama, namun karna situasinya saya didalam mobil yang sempit ruang gerak pukulan kedua berhasil mengenai tepat di bahu kiri saya, sebab dari pukulan itulah bahu saya memar dan lebam, jelas Supli.

Tindakan kekerasan yang di lakukan oleh pelaku AM kepada saya bermula di karenakan pada saat di lokasi kejadian kami sempat berlangsung cekcok adu mulut beberapa menit, nah pada saat itulah ada dua orang anggota TNI dari Koramil Sandai datang dari arah Randau Jungkal dan berhenti dan langsung melerai kami, Sebagai aparat pengayom masyarakat anggota TNI itu meminta saya untuk menunjukan KTA dan surat tugas saya untuk menyakinkan benar atau tidaknya bahwa saya seorang wartawan mungkin begitulah pemahaman saya, tambah Supli.

Di saat saya menunjukan identitas diri dan legalitas profesi sebagai wartawan, disaat inilah yang di manfaatkan pelaku AM meluapkan amarahnya dia masuk dan langsung melakukan pemukulan berulangkali dengan penuh emosional.

Korban (Supli) juga menceritakan sedikit asal mula kejadian tersebut sampai terjadinya pemukulan terhadap dirinya ialah  bermula dari, "Saya dan rekan saya menuju arah Desa Randau Jungkal, dalam perjalanan tersebut tepatnya di Desa demit mampirlah kami di TPK milik AM yang terdapat banyak tumpukan kayu di TPK tersebut.

Lanjut, " Sebelum saya dan rekan  mengambil dokumentasi di TPK itu saya meminta ijin kepada penjaga TPK dan menjelaskan maksud dan tujuan saya datang untuk mengambil data sebagai bahan pemberitaan saja, Imbuhnya.

Dirangkum dari beberapa penjelasan Supli kepada Garda Metro melalui telepon wa, pada 20 Desember 2021,.

"Supli mengungkapkan, bahwa pada  saat saya mengambil foto atau dokumentasi sebagai bukti fakta lapangan dan bukti fisik guna  membuktikan bahwa adanya aktivitas penampungan kayu illegal serta aktivitas bongkar muat di area TPK diduga milik pelaku AM, tampak terlihat seorang oknum penjaga TPK tersebut menunjukan gelagat tidak menyenangkan terhadap kedatangan kami di TPK itu, orang  itu langsung marah-marah dan merasa terganggu atas kehadiran kami, namun saya juga sempat sedikit  mejawab ocehannya orang itu sehingga kami sempat  cekcok atau adu mulut  dengan orang penjaga TPK itu, tak ingin meladeni orang itu dan tidak terlalu penting bagiku, kamipun pulang menuju arah pulang ke Kecamatan Sandai, ungkap Supli.

Saya mengira insiden adu mulut cekcok antara kami dan oknum penjaga TPK itu telah selesai di situ saja, Kami pun melanjutkan perjalanan tanpa berfikir hal yang belum tentu akan terjadi.

Secara tiba-tiba terdengar suara panggilan dengan nada marah dari arah belakang, Spontan saya kepinggir memarkirkan mobil, dan saya masih tetap berada dalam mobil, namun kami tetap antisipasi menjaga diri dari hal yang tidak kami inginkan dan saya  penasaran apa maksud dan tujuan teriakan tadi.

Rupanya teriakan itu di lakukan oleh pelaku AM dan dua rekannya yang langsung menghampiri saya meluapkan amarahnya dan kata-kata kasar kepada saya dan rekan, paparnya.

Apa boleh dikata sabar  juga ada batasnya, saya yang merasa tidak nyaman mendengarkan ocehan itu, saling sahut dan berlanjut adu mulut dan cekcok.

Berselang beberapa menit kemudian sebelum pelaku AM memukul saya seperti yang sudah saya jelaskan di awal penjelasan  kejadian ini, saya menceritakan berdasarkan fakta sebenarnya, sampai pada ahirnya mereka menarik paksa saya untuk keluar dari mobil.

Perilaku mereka yang tak ubahnya bergaya ala premanisme yang punya banyak uang, berbuat sesukanya, dugaan saya mungkin dia bos kayu punya banyak uang hukum bisa di bayar mungkin begitulah dugaan saya, Pada saat kejadian Anggota TNI yang melihat kejadian itupun tidak di anggap oleh pelaku AM dan rekannya, tegas Supli.

Insiden pemukulan atau tindakan kekerasan yang saya alami ini sudah menjadi laporan resmi, dan saya sangat yakin sepenuhnya pihak kepolisian yang bertugas akan profesional dalam menindak pelakunya dan mengedepankan pelayanan terhadap masyarakat yang mengharapkan kenyamanan, keamanan dan keadilan serta tindak tegas kepolisian terhadap para pelaku kejahatan apapun bentuknya itu adalah gambaran bahwa tak ada yang kebal hukum bagi para pelaku kejahatan  siapapun dia itu, tutupnya dikutip dari gardametro.com.

Di waktu berlainan, Polres Ketapang melalui Kapolsek Sandai, Fanni Athar Hidayat Mengatakan dan membenarkan atas kejadian tersebut.

'"Benar kita menerima laporan korban. Sekarang kasusnya sedang di proses dan korban sudah dianjurkan untuk di Visum, jelas Fanni.

Apapun bentuknya perbuatan melawan hukum terlebih lagi mengintimidasi dan menghalangi tugas jurnalistik jelas diatur di dalam UU Pers No 40 Tahun 1999 pada Pasal 18 Ayat (1) yang menyebutkan, bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah.

Tindakan kekerasan yang mengakibatkan korban luka adalah perbuatan yang tidak boleh di lakukan pada siapapun karena panglima tertinggi kita adalah hukum, apalagi kejadian ini di lakukan terhadap wartawan yang sedang melakukan tugasnya.

Jika pelaku AM terbukti bersalah atas pebuatannya terhadap korban (Supli 39) , Kita yakin dan percayakan  pihak Kepolisian menjalankan tugasnya secara profesional dan laporan korban sudah di terima, bila terbukti bersalah maka pelaku akan tersandung  pasal 351 KUHP: “(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.***

Komentar Via Facebook :